BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perkara menghubungkan Islam dengan sains sesudah sesuatu unsur sains itu ditemui atau dibina oleh orang bukan Islam “dengan jayanya” sudah menjadi lumrah mungkin sejak Islam terkebelakang dalam bidang ilmu sekurang-kurangnya sejak abad ke-17M. Ide menguak berbagai penemuan sains dalam Al Qur’an dipandang perlu mengingat banyak diantara kaum muslimin meninggalkan Al Qur’an sebagai pedoman hidup yang didalamnya terkandung hikmah dan ilmu pengetahuan yang menakjubkan dan lebih memilih sains yang dikatakan sebagai orang yang terus berkembang. Perlu diingat bahwa ilmu pengetahuan yang berkembang sedemikian pesatnya adalah tidak lain sudah tertuang sebelumnya selama 14 abad yang lalu yang semuanya tercantum dalam Al Qur’an termasuk diantaranya penemuan seorang ilmuan yang terspektakuler sepanjang abad karena penemuannya yang saking hebatnya tidak ada ilmuan yang mampu menjelaskan teori yang ia cetuskan tersebut. Teori yang ia kemukakan pada waktu itu membuat banyak ilmuah menganggap bahwa teori tersebut tidaklah logis, namun seorang Einstein menggunakan berbagai macam pendekatan termasuk diantaranya pendekatan matematiknya untuk membuktikan teori tersebut, ternyata teori yang dianggap sebagai teori yang tidak rasional itu malah menjadikan para ilmuan semakin heran dan terpesona dengan postulat Einstein tersebut. Sangat Sederhana sekali Rumus yang hanya berkomponen energi, massa dan kecepatan cahaya mampu membuat para ilmuan ketika itu tercengang.
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara melacak teori Einstein dalam Al Qur’an?
2. Seberapa pentingkah teori Einstein dalam perkembangan ilmu pengetahuan?
1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana cara menemukan teori Einstein dalam Al Qur’an.
2. Untuk mengetahui seberapa pentingnya teori Einstein dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Gambaran umum Teori Einstein
Albert Einstein (1879-1955), tak salah lagi, seorang ilmuwan terhebat abad ke-20. Cendekiawan tak ada tandingannya sepanjang jaman. Termasuk karena teori "relativitas"-nya. Sebenarnya teori ini merupakan dua teori yang bertautan satu sama lain: teori khusus "relativitas" yang dirumuskannya tahun 1905 dan teori umum "relativitas" yang dirumuskannya tahun 1915, lebih terkenal dengan hukum gaya berat Einstein.
Kedua teori ini teramat rumitnya, karena itu bukan tempatnya di sini menjelaskan sebagaimana adanya, namun uraian ala kadarnya tentang soal relativitas khusus ada disinggung sedikit. Pepatah bilang, "semuanya adalah relatif." Teori Einstein bukanlah sekedar mengunyah-ngunyah ungkapan yang nyaris menjemukan itu. Yang dimaksudkannya adalah suatu pendapat matematik yang pasti tentang kaidah-kaidah ilmiah yang sebetulnya relatif. Hakikatnya, penilaian subyektif terhadap waktu dan ruang tergantung pada si penganut. Sebelum Einstein, umumnya orang senantiasa percaya bahwa dibalik kesan subyektif terdapat ruang dan waktu yang absolut yang bisa diukur dengan peralatan secara obyektif. Teori Einstein menjungkir-balikkan secara revolusioner pemikiran ilmiah dengan cara menolak adanya sang waktu yang absolut. Contoh berikut ini dapat menggambarkan betapa radikal teorinya, betapa tegasnya dia merombak pendapat kita tentang ruang dan waktu.
Bayangkanlah sebuah pesawat ruang angkasa --sebutlah namanya X--meluncur laju menjauhi bumi dengan kecepatan 100.000 kilometer per detik. Kecepatan diukur oleh pengamat, baik yang berada di pesawat ruang angkasa X maupun di bumi, dan pengukuran mereka bersamaan. Sementara itu, sebuah pesawat ruang angkasa lain yang bernama Y meluncur laju pada arah yang sama dengan pesawat ruang angkasa X tetapi dengan kecepatan yang berlebih. Apabila pengamat di bumi mengukur kecepatan pesawat ruang angkasa Y, mereka mengetahui bahwa pesawat itu melaju menjauhi bumi pada kecepatan 180.000 kilometer per detik. Pengamat di atas pesawat ruang angkasa Y akan berkesimpulan serupa.
Nah, karena kedua pesawat ruang angkasa itu melaju pada arah yang bersamaan, akan tampak bahwa beda kecepatan antara kedua pesawat itu 80.000 kilometer per detik dan pesawat yang lebih cepat tak bisa tidak akan bergerak menjauhi pesawat yang lebih lambat pada kadar kecepatan ini.
Tetapi, teori Einstein memperhitungkan, jika pengamatan dilakukan dari kedua pesawat ruang angkasa, mereka akan bersepakat bahwa jarak antara keduanya bertambah pada tingkat ukuran 100.000 kilometer per detik, bukannya 80.000 kilometer per detik.
Kelihatannya hal ini mustahil. Kelihatannya seperti olok-olok. Pembaca menduga seakan ada bau-bau tipu. Menduga jangan-jangan ada perincian yang disembunyikan. Padahal, sama sekali tidak! Hasil ini tidak ada hubungannya dengan tenaga yang digunakan untuk mendorong mereka.
Tak ada keliru pengamatan. Walhasil, tak ada apa pun yang kurang, alat rusak atau kabel melintir. Mulus, polos, tak mengecoh. Menurut Einstein, hasil kesimpulan yang tersebut di atas tadi semata-mata sebagai akibat dari sifat dasar alamiah ruang dan waktu yang sudah bisa diperhitungkan lewat rumus "teori relativitas" bagaikan menjauhi hipotesa "menara gading," seolah-olah teori itu tak punya arti penting samasekali. Tak seorang pun --tentu saja tidak-- membuat kekeliruan hingga tahun 1945 tatkala bom atom menyapu Hiroshima dan Nagasaki. Salah satu kesimpulan "teori relativitas" Einstein adalah benda dan energi berada dalam arti yang berimbangan dan hubungan antara keduanya dirumuskan sebagai E = mc2. E menunjukkan energi dan m menunjukkan massa benda, sedangkan c merupakan kecepatan cahaya. Nah, karena c adalah sama dengan 180.000 kilometer per detik (artinya merupakan jumlah angka amat besar) dengan sendirinya c2 (yang artinya c x c) karuan saja tak tepermanai besar jumlahnya. Dengan demikian berarti, meskipun pengubahan sebagian kecil dari benda mampu mengeluarkan jumlah energi luar biasa besarnya.
Orang karuan saja tak bakal bisa membikin sebuah bom atom atau pusat tenaga nuklir semata-mata berpegang pada rumus E = mc2. Haruslah dikaji pula dalam-dalam, banyak orang memainkan peranan penting dalam proses pembangkitan energi atom. Namun, bagaimanapun juga, sumbangan pikiran Einstein tidaklah meragukan lagi. Tak ada yang cekcok dalam soal ini. Lebih jauh dari itu, tak lain dari Einstein orangnya yang menulis surat kepada Presiden Roosevelt di tahun 1939, menunjukkan terbukanya kemungkinan membikin senjata atom dan sekaligus menekankan arti penting bagi Amerika Serikat selekas-lekasnya membikin senjata itu sebelum didahului Jerman. Gagasan itulah kemudian mewujudkan "Proyek Manhattan" yang akhirnya bisa menciptakan bom atom pertama.
"Teori relativitas khusus" mengundang beda pendapat yang hangat, tetapi dalam satu segi semua sepakat, teori itu merupakan pemikiran yang paling meragukan yang pernah dirumuskan manusia. Tetapi, tiap orang ternyata terkecoh karena "teori relativitas umum" Einstein merupakan titik tolak pikiran lain bahwa pengaruh gaya berat bukanlah lantaran kekuatan fisik dalam makna yang biasa, melainkan akibat dari bentuk lengkung angkasa luar sendiri, suatu pendapat yang amat mencengangkan!
Bagaimana bisa orang mengukur bentuk lengkung ruang angkasa?
Einstein bukan sekedar mengembangkan secara teoritis, melainkan dituangkannya ke dalam rumusan matematik yang jernih dan jelas sehingga orang bisa melakukan ramalan yang nyata dan hipotesanya bisa diuji. Pengamatan berikutnya --dan ini yang paling cemerlang karena dilakukan tatkala gerhana matahari total-- telah berulang kali diyakini kebenarannya karena bersamaan benar dengan apa yang dikatakan Einstein.
Teori umum tentang relativitas berdiri terpisah dalam beberapa hal dengan semua hukum-hukum ilmiah. Pertama, Einstein merumuskan teorinya tidak atas dasar percobaan-percobaan, melainkan atas dasar-dasar kehalusan simetri dan matematik. Pendeknya berpijak diatas dasar rasional seperti lazimnya kebiasaan para filosof Yunani dan para cendekiawan abad tengah perbuat. Ini berarti, Einstein berbeda cara dengan metode ilmuwan modern yang berpandangan empiris. Tetapi, bedanya ada juga: pemikir Yunani dalam hal pendambaan keindahan dan simetri tak pernah berhasil mengelola dan menemukan teori yang mekanik yang mampu bertahan menghadapi percobaan pengujian yang rumit-rumit, sedangkan Einstein dapat bertahan dengan sukses terhadap tiap-tiap percobaan. Salah satu hasil dari pendekatan Einstein adalah bahwa teori umum relativitasnya dianggap suatu yang amat indah, bergaya, teguh dan secara intelektual memuaskan semua teori ilmiah.
Teori relativitas umum juga dalam beberapa hal berdiri secara terpisah. Kebanyakan hukum-hukum ilmiah lain hanya kira-kira saja berlaku. Ada yang kena dalam banyak hal, tetapi tidak semua. Sedangkan mengenai teori umum relativitas, sepanjang pengetahuan, sepenuhnya diterima tanpa kecuali. Tak ada keadaan yang tak diketahui, baik dalam kaitan teoritis atau percobaan praktek yang menunjukkan bahwa ramalan-ramalan teori umum relativitas hanya berlaku secara kira-kira. Bisa saja percobaan-percobaan di masa depan merusak nama baik hasil sempurna yang pernah dicapai oleh sesuatu teori, tetapi sepanjang menyangkut teori umum relativitas, jelas tetap merupakan pendekatan yang paling diandalkan bagi setiap ilmuwan dalam usahanya menuju kebenaran terakhir.
Meskipun Einstein teramat terkenal dengan "teori relativitas"-nya, keberhasilan karyanya di bidang ilmiah lain juga membuatnya tersohor selaku ilmuwan dalam setiap segi. Nyatanya, Einstein peroleh Hadiah Nobel untuk bidang fisika terutama lantaran buah pikiran tertulisnya membeberkan efek-efek foto elektrik, sebuah fenomena penting yang sebelumnya merupakan teka-teki para cerdik pandai. Dalam karya tulisan ilmiah itu Einstein membuktikan eksistensi photon, atau partikel cahaya.
Anggapan lama lewat percobaan yang tersendat-sendat mengatakan bahwa cahaya itu terdiri dari gelombang elektro magnit, dan gelombang serta partikel merupakan konsep yang berlawanan. Sedangkan hipotesa Einstein menunjukkan suatu perbedaan yang radikal dan amat bertentangan dengan teori-teori klasik. Bukan saja hukum foto elektriknya terbukti punya arti penting dalam penggunaan, tetapi hipotesanya tentang photon punya pengaruh besar dalam perkembangan teori kuantum (hipotesa bahwa dalam radiasi, energi elektron dikeluarkan tidak kontinyu melainkan dalam jumlah tertentu) yang saat ini merupakan bagian tak terpisahkan dari teori itu.
Dalam hal menilai arti penting Einstein, suatu perbandingan dengan Isaac Newton merupakan hal menyolok. Teori Newton pada dasarnya mudah dipahami, dan kegeniusannya sudah tampak pada awal mula perkembangan. Sedangkan "teori relativitas" Einstein teramat sulit dipahami biarpun lewat penjelasan yang cermat dan hati-hati. Lebih-Lebih rumit lagi jika mengikhtisarkan aslinya! Tatkala beberapa gagasan Newton mengalami benturan dengan gagasan ilmiah pada jamannya, teorinya tak pernah tampak luntur atau goyah dengan pendiriannya. Sebaliknya, "teori relativitas" penuh dengan hal yang saling bertentangan. Ini merupakan bagian dari kegeniusan Einstein bahwa pada saat permulaan, ketika gagasannya masih merupakan hipotesa yang belum diuji yang dikemukakannya selaku orang muda belasan tahun yang samasekali tidak dikenal, dia tak pernah membiarkan kontradiksi yang nyata-nyata ada ini dan mencampakkan teorinya. Sebaliknya malahan dia dengan sangat cermat dan hati-hati merenungkan terus hingga ia mampu menunjukkan bahwa kontradiksi ini hanya pada lahirnya saja sedangkan sebenarnya tiap masalah selalu tersedia untuk memecahkan kontradiksi itu dengan cara yang halus namun cerdik dan tegas.
Kini, kita anggap teori Einstein itu pada dasarnya lebih "correct" ketimbang teori Newton. Jika begitu halnya kenapa Einstein ditempatkan Lebih bawah dalam daftar tingkat urutan buku ini?
Alasannya tersedia. Pertama, teori-teori Newtonlah yang merupakan peletak dasar dan batu pertama ilmu pengetahuan modern dan teknologi. Tanpa karya Newton, kita tidak akan menyaksikan teknologi modern sekarang ini. Bukannya Einstein.
Ada lagi faktor yang menyebabkan mengapa kedudukan Einstein dalam urutan seperti yang pembaca saksikan. Dalam banyak hal, perkembangan suatu ide melibatkan sumbangan pikiran banyak orang. Ini jelas sekali misalnya dalam ihwal sejarah sosialisme, atau dalam pengembangan teori listrik dan magnit. Meskipun Einstein tidak 100% merumuskan "teori relativitas" dengan otaknya sendiri, yang sudah pasti sebagian terbesar memang sahamnya. Adalah adil mengatakan bahwa ditilik dari perbandingan arti penting ide-ide lain, teori-teori relativitas terutama berasal dari kreasi seorang, si genius dan si jempolan, Einstein.
2.2. Einstein mendiskusikan teori-teorinya.
Einstein lahir tahun 1879, di kota Ulm, Jerman. Dia memasuki perguruan tinggi di Swiss dan menjadi warganegara Swiss tahun 1900. Di tahun 1905 dia mendapat gelar Doktor dari Universitas Zurich tetapi (anehnya) tak bisa meraih posisi akademis pada saat itu. Di tahun itu pula dia menerbitkan kertas kerja perihal "relatif khusus," perihal efek foto elektrik, dan tentang teori gerak Brown. Hanya dalam beberapa tahun saja kertas-kertas kerja ini, terutama yang menyangkut relativitas, telah mengangkatnya menjadi salah seorang ilmuwan paling cemerlang dan paling orisinal di dunia. Teori-teorinya sangat kontroversial. Tak ada ilmuwan dunia kecuali Darwin yang pernah menciptakan situasi kontroversial seperti Einstein. Akibat itu, di tahun 1913 dia diangkat sebagai mahaguru di Universitas Berlin dan pada saat berbarengan menjadi Direktur Lembaga Fisika "Kaisar Wilhelm" serta menjadi anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Prusia. Jabatan-jabatan ini tidak mengikatnya untuk sebebas-bebasnya mengabdikan sepenuh waktu melakukan penyelidikan-penyelidikan, kapan saja dia suka.
Pemerintah Jerman tidak menyesal menyiram Einstein dengan sebarisan panjang kedudukan yang istimewa itu karena persis dua tahun kemudian Einstein berhasil merumuskan "teori umum relativitas," dan tahun 1921 dia memperoleh Hadiah Nobel. Sepanjang paruhan terakhir dari kehidupannya, Einstein menjadi buah bibir dunia, dan hampir dapat dipastikan dialah ilmuwan yang masyhur yang pernah lahir ke dunia.
Karena Einstein seorang Yahudi, kehidupannya di Jerman menjadi tak aman begitu Hitler naik berkuasa. Di tahun 1933 dia hijrah ke Princeton, New Jersey, Amerika Serikat, bekerja di Lembaga Studi Lanjutan Tinggi dan di tahun 1940 menjadi warga negara Amerika Serikat. Perkawinan pertama Einstein berujung dengan perceraian, hanya perkawinannya yang kedua tampaknya baru bahagia. Punya dua anak, keduanya laki-laki. Einstein meninggal dunia tahun 1955 di Princeton.
Einstein senantiasa tertarik pada ihwal kemanusiaan dunia di sekitarnya dan sering mengemukakan pandangan-pandangan politiknya. Dia merupakan pelawan teguh terhadap sistem politik tirani, seorang pendukung gigih gerakan Pacifis, dan seorang penyokong teguh Zionisme. Dalam hal berpakaian dan kebiasaan-kebiasaan sosial dia tampak seorang yang individualistis. Suka humor, sederhana dan ada bakat gesek biola. Tulisan pada nisan makam Newton yang berbunyi: "Bersukarialah para arwah karena hiasan yang ditinggalkannya bagi kemanusiaan!" sebetulnya lebih kena untuk Einstein.
2.3. Penentuan Konstanta C melalui Al Qur’an
Konstanta C atau sering disebut dengan kecepatan cahaya yang merupakan komponen terpenting dalam formulasi teori Einstein. Dimana menurut Einstein bahwa kecepatan cahaya merupakan kecepatan yang tercepat di jagad raya ini yaitu 299.279,5 km/s. hal tersebut bisa ditentukan atau dihitung dengan tepat berdasarkan informasi dari dokumen yang sangat tua. Mungkin kita tidak pernah tahu bahwa konstanta C atau kecepatan cahaya yaitu kecepatan tercepat di jagad raya ini diukur, dihitung dan ditentukan oleh berbagai institusi berikut:
US National Bureau Of Standards
C= 299.792,4574 + 0,0011 Km/s
The British National Physical Laboratory
C= 299.792,4590 + 0,0008 Km/s
Konferensi ke-17 tentang penetapan ukuran dan berat standar.
“Satu meter adalah jarak tempuh cahaya dalam ruang vacuum selama jangka waktu 1/299.792,459 Km/s”
Tapi kita seharusnya tahu bahwa konstanta C bisa dihitung atau ditentukan secara tepat menggunakan informasi dari kitab suci yang diturunkan 14 abad silam yaitu Al Qur’an kitab suci umat islam. (Penemu hitungan ini adalah seorang ahli fisika dari mesir, DR. Mansour Hassab Ernaby)
Dalam Al Qur’an dinyatakan
“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan haq. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui” (QS. Yunus: 5)
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS. Al Anbiyaa:33)
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu” (QS. As Sajadah:5)
Berdasarkan ayat-ayat tersebut diatas terutama ayat yang terakhir (QS. 32:5) dapat disimpulkan: “Jarak yang dicapai sang urusan selama satu hari sama dengan jarak yang ditempuh bulan selama 1.000 tahun atau 12.000 bulan.
C.t = 12.000. L
Ket: C = Kecepatan sang urusan
t = Waktu selama satu hari
L = Panjang rute edar bulan selama satu bulan
Berbagai system kalender telah diuji, namun “Sistem kalender bulan sideral” menghasilkan nilai C yang percis sama dengan nilai C yang sudah diketahui melalui pengukuran.
Ada dua macam system kalender bulan:
1) Sistem Sinodik
Didasarkan atas penampakan semu gerak ulan dan matahari dari bumi.
1 hari = 24 jam
1 bulan = 29,53059 hari
2) Sistem Sidereal
Didasarkan atas pergerakan relative bulan dan matahari terhadap bintang dan alam semesta.
1 hari = 23 jam 56 menit 4,0906 detik
1 bulan = 27,321661 hari
Posisi bulan setelah 29,52 hari (Rute berupa Lingkaran)
Bulan kembali ke posisi semula tepat pada garis lurus antara matahari dan bumi (satu bulan sinodik)
Sistem Sidereal (Rute berupa Kurva)
L = V.T Ket:
V = Kecepatan Bulan
T = Priode revolusi Bulan
= 27,321661 hari
@ = 27,321661 hari 360o = 26,92848o
365,25636 hari
Sebuah catatan tentang kecepatan bulan
Ada 2 tipe kecepatan Bulan:
1). Kecepatan Relatif terhadap Bumi yang bisa dihitung dengan rumus berikut
Ve = 2 R / T
Dimana: R = Jari-jari Revolusi Bulan = 384,264 km
T = Periode Revolusi Bulan = 655,71986 jam
Jadi, Ve = 2. 3,14. 384,264 / 655,71986 = 3682,07 km/jam
2). Kecepatan Relatif Terhadap Bintang atau Alam Semesta
Einstein mengusulkan bahwa kecepatan jenis kedua ini dihitung dengan mengalikan yang pertama dengan cosinus @, sehingga:
V = Ve Cos @ @ = 26,92848o
Jadi, C. t = 12.000. L
C. t = 12.000. V. T
C. t = 12.000. (Ve Cos @). T
C = 12.000. Ve Cos @. T / t
C = 12.000. 3682,07 Cos 26,92848o. 655,7198 / 86164,090 =299.792,5 km/jam
2.4. Aplikasi Teori Einstein dalam Kehidupan
Berbicara tentang pengaplikasian teori Einstein, maka dapat dikatakan bahwa Einstein merupakan ilmuan pertama yang meletakkan dasar-dasar dari berkembangnya fisika modern. Terciptanya Bom atom yang pertama juga merupakan buah dari pemikiran seorang Einstein dan perkembangan teori kuantum dalam konsep fotoelektrik yang dikenal dengan efek fotolistrik dan yang tak kalah pentingnya adalah akhir-akhir ini bermunculan teknologi canggih yang disebut dengan Teknologi nano, dengan teknologi nano berbagai aktivitas kehidupan dapat dilakukan dengan sangat mudah. Semua itu tidak lain karena adanya teori Einstein, sehingga Einstein dinobatkan sebagai ilmuan terhebat sepanjang zaman.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan rumusan masalah dan pembahasan yang telah dipaparkan maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Teori yang paling spektakuler sepanjang abad yang telah dicetuskan oleh seorang ilmuan yang bernama Einstein ternyata sudah tergambarkan dengan jelas di dalam kitab suci Al Qur’an selama 14 abad silam.
2. Saking pentingnya teori tersebut para ilmuan abad ini banyak merujuk kepada teori ini, salah satunya perkembangan teori atom yang berimplikasi kepada lahirnya Teknologi nano yang pada masa ini sangat disanjung-sanjung, semua itu berkat daripada teori Einstein.
3.2. Saran
Begitu sempurnanya kitab suci Al Qur’an sebagai pedoman hidup manusia yang didalamnya tercantum berbagai macam ilmu pengetahuan, maka sebagai seorang muslim yang intelek maka sudah selayaknya kita mengkaji dan memahami isi kandungan yang terkandung didalamnya, sudah banyak bukti kebenaran Al Qur’an yang telah diuji dengan ilmu pengetahuan modern dan menghasilkan karya-karya besar. Bahkan banyak para ilmuan non muslim sengaja mengkaji Al Qur’an dengan mengharap keuntungan dunia yang sesaat tetapi tidak mau beriman kepadanya. Kenapa kita yang Al Qur’an sebagai pedoman hidup kita sebagai sumber ilmu pengetahuan kita tinggalkan, tidakkah kita merasa rugi. Mari kika sama-sama menyadari dan kembali kepada Al Qur’an supaya kita selamat dunia dan akhirat.
DAFTAR PUSTAKA
Hart, M.H. 1978. Seratus Tokoh Berpengaruh di Dunia. Jakarta Pusat: PT. Dunia Pustaka Jaya
Wardana, A.W. 2005. Einstein Membantah Taurat dan Injil. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Wisnu. 2009. Melacak Teori Einstein dalam Al Qur’an. (Online). Www. Wisnu Arya.go.id. diakses tanggal 20 April 2010.
DOKUMENTASI
Pertanyaan !
No Penanya Kelas Pertanyaan
1 Dewi Sumati Fisika IV A Bagaimana aplikasi teori Einstein dalam mengubah massa menjadi energi atau energi menjadi massa ?
2 Abdul Aziz Fisika IV A Apa alasan massa (m) dalam formulasi Enstein tidak terlalu diperhatikan ?
3 Anas Ma’ruf Fisika IV A Apa kaitannya tema makalah dengan pembahasan yang dipaparkan ?
4 Desi Indrasari Fisika IV A Bagaimana penerapan teori Einstein dalam kehidupan sehari-hari ?
MAKALAH
“MELACAK TEORI EINSTEIN DALAM
AL QUR’AN”
OLEH:
RAJA BAU
BAHARUDIN
ADRIANI R
MUHAMMAD SALEH
DEDI H
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM (FPMIPA)
IKIP MATARAM
2010
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai pedoman hidup yang sempurnah bagi manusia sebagai seorang khalifah di muka bumi. Al Qur’an yang mengandung banyak hikmah didalamnya sudah selayaknya kita mengkaji makna yang terkandung di dalamnya. Tanpa kita sadari penemuan atau teori paling terspektakuler sepanjang abad ternyata bisa ditemukan di dalam Al Qur’an. Bahkan sebelum teori tersebut dicetuskan jauh-jauh hari Al Qur’an sudah menginformasikan hal tersebut selama 14 abad yang lalu. Sudah terlambatkah kita untuk mempelajari dan mengkaji Al Qur’an untuk menguak fenomena-fenomena baru yang akan menakjubkan dunia, jangan kita pesimis masih banyak ayat Al Qur’an yang belum diungkap kehebatannya, tugas kita sebagai kaum intelek penulis mengajak kita semua mari kita sama-sama menguak fenomena-fenomena terdahsyat di dalam Al Qur’an sehingga kita semakin yakin bahwa Al Qur’an adalah benar dan tidak ada yang salah sehingga lahirlah generasi islam yang bisa diandalkan. Ingat ilmu pengetahuan milik kita bukan milik orang-orang yahudi yang menentang Al Qur’an. Allahuakbar !!!
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Mataram, 1 Mei 2010
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang……………………………………………………. 1
1.2. Rumusan Masalah……………………………………………….. 1
1.3. Tujuan……………………………………………………………… 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Gambaran Umum Teori Einstein…………………………………. 3
2.2. Einstein Mendiskusikan Teori-teorinya…………………………. 8
2.3. Penentuan Konstanta C Melalui Al Qr’an……………………….. 10
2.4. Aplikasi Teori Einstein dalam Kehidupan………………………... 14
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
3.1. Kesimpulan…………………………………………. …………. ….. 15
3.2. Saran……………………………………. …………….. ………. … 15
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perkara menghubungkan Islam dengan sains sesudah sesuatu unsur sains itu ditemui atau dibina oleh orang bukan Islam “dengan jayanya” sudah menjadi lumrah mungkin sejak Islam terkebelakang dalam bidang ilmu sekurang-kurangnya sejak abad ke-17M. Ide menguak berbagai penemuan sains dalam Al Qur’an dipandang perlu mengingat banyak diantara kaum muslimin meninggalkan Al Qur’an sebagai pedoman hidup yang didalamnya terkandung hikmah dan ilmu pengetahuan yang menakjubkan dan lebih memilih sains yang dikatakan sebagai orang yang terus berkembang. Perlu diingat bahwa ilmu pengetahuan yang berkembang sedemikian pesatnya adalah tidak lain sudah tertuang sebelumnya selama 14 abad yang lalu yang semuanya tercantum dalam Al Qur’an termasuk diantaranya penemuan seorang ilmuan yang terspektakuler sepanjang abad karena penemuannya yang saking hebatnya tidak ada ilmuan yang mampu menjelaskan teori yang ia cetuskan tersebut. Teori yang ia kemukakan pada waktu itu membuat banyak ilmuah menganggap bahwa teori tersebut tidaklah logis, namun seorang Einstein menggunakan berbagai macam pendekatan termasuk diantaranya pendekatan matematiknya untuk membuktikan teori tersebut, ternyata teori yang dianggap sebagai teori yang tidak rasional itu malah menjadikan para ilmuan semakin heran dan terpesona dengan postulat Einstein tersebut. Sangat Sederhana sekali Rumus yang hanya berkomponen energi, massa dan kecepatan cahaya mampu membuat para ilmuan ketika itu tercengang.
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara melacak teori Einstein dalam Al Qur’an?
2. Seberapa pentingkah teori Einstein dalam perkembangan ilmu pengetahuan?
1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana cara menemukan teori Einstein dalam Al Qur’an.
2. Untuk mengetahui seberapa pentingnya teori Einstein dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Gambaran umum Teori Einstein
Albert Einstein (1879-1955), tak salah lagi, seorang ilmuwan terhebat abad ke-20. Cendekiawan tak ada tandingannya sepanjang jaman. Termasuk karena teori "relativitas"-nya. Sebenarnya teori ini merupakan dua teori yang bertautan satu sama lain: teori khusus "relativitas" yang dirumuskannya tahun 1905 dan teori umum "relativitas" yang dirumuskannya tahun 1915, lebih terkenal dengan hukum gaya berat Einstein.
Kedua teori ini teramat rumitnya, karena itu bukan tempatnya di sini menjelaskan sebagaimana adanya, namun uraian ala kadarnya tentang soal relativitas khusus ada disinggung sedikit. Pepatah bilang, "semuanya adalah relatif." Teori Einstein bukanlah sekedar mengunyah-ngunyah ungkapan yang nyaris menjemukan itu. Yang dimaksudkannya adalah suatu pendapat matematik yang pasti tentang kaidah-kaidah ilmiah yang sebetulnya relatif. Hakikatnya, penilaian subyektif terhadap waktu dan ruang tergantung pada si penganut. Sebelum Einstein, umumnya orang senantiasa percaya bahwa dibalik kesan subyektif terdapat ruang dan waktu yang absolut yang bisa diukur dengan peralatan secara obyektif. Teori Einstein menjungkir-balikkan secara revolusioner pemikiran ilmiah dengan cara menolak adanya sang waktu yang absolut. Contoh berikut ini dapat menggambarkan betapa radikal teorinya, betapa tegasnya dia merombak pendapat kita tentang ruang dan waktu.
Bayangkanlah sebuah pesawat ruang angkasa --sebutlah namanya X--meluncur laju menjauhi bumi dengan kecepatan 100.000 kilometer per detik. Kecepatan diukur oleh pengamat, baik yang berada di pesawat ruang angkasa X maupun di bumi, dan pengukuran mereka bersamaan. Sementara itu, sebuah pesawat ruang angkasa lain yang bernama Y meluncur laju pada arah yang sama dengan pesawat ruang angkasa X tetapi dengan kecepatan yang berlebih. Apabila pengamat di bumi mengukur kecepatan pesawat ruang angkasa Y, mereka mengetahui bahwa pesawat itu melaju menjauhi bumi pada kecepatan 180.000 kilometer per detik. Pengamat di atas pesawat ruang angkasa Y akan berkesimpulan serupa.
Nah, karena kedua pesawat ruang angkasa itu melaju pada arah yang bersamaan, akan tampak bahwa beda kecepatan antara kedua pesawat itu 80.000 kilometer per detik dan pesawat yang lebih cepat tak bisa tidak akan bergerak menjauhi pesawat yang lebih lambat pada kadar kecepatan ini.
Tetapi, teori Einstein memperhitungkan, jika pengamatan dilakukan dari kedua pesawat ruang angkasa, mereka akan bersepakat bahwa jarak antara keduanya bertambah pada tingkat ukuran 100.000 kilometer per detik, bukannya 80.000 kilometer per detik.
Kelihatannya hal ini mustahil. Kelihatannya seperti olok-olok. Pembaca menduga seakan ada bau-bau tipu. Menduga jangan-jangan ada perincian yang disembunyikan. Padahal, sama sekali tidak! Hasil ini tidak ada hubungannya dengan tenaga yang digunakan untuk mendorong mereka.
Tak ada keliru pengamatan. Walhasil, tak ada apa pun yang kurang, alat rusak atau kabel melintir. Mulus, polos, tak mengecoh. Menurut Einstein, hasil kesimpulan yang tersebut di atas tadi semata-mata sebagai akibat dari sifat dasar alamiah ruang dan waktu yang sudah bisa diperhitungkan lewat rumus "teori relativitas" bagaikan menjauhi hipotesa "menara gading," seolah-olah teori itu tak punya arti penting samasekali. Tak seorang pun --tentu saja tidak-- membuat kekeliruan hingga tahun 1945 tatkala bom atom menyapu Hiroshima dan Nagasaki. Salah satu kesimpulan "teori relativitas" Einstein adalah benda dan energi berada dalam arti yang berimbangan dan hubungan antara keduanya dirumuskan sebagai E = mc2. E menunjukkan energi dan m menunjukkan massa benda, sedangkan c merupakan kecepatan cahaya. Nah, karena c adalah sama dengan 180.000 kilometer per detik (artinya merupakan jumlah angka amat besar) dengan sendirinya c2 (yang artinya c x c) karuan saja tak tepermanai besar jumlahnya. Dengan demikian berarti, meskipun pengubahan sebagian kecil dari benda mampu mengeluarkan jumlah energi luar biasa besarnya.
Orang karuan saja tak bakal bisa membikin sebuah bom atom atau pusat tenaga nuklir semata-mata berpegang pada rumus E = mc2. Haruslah dikaji pula dalam-dalam, banyak orang memainkan peranan penting dalam proses pembangkitan energi atom. Namun, bagaimanapun juga, sumbangan pikiran Einstein tidaklah meragukan lagi. Tak ada yang cekcok dalam soal ini. Lebih jauh dari itu, tak lain dari Einstein orangnya yang menulis surat kepada Presiden Roosevelt di tahun 1939, menunjukkan terbukanya kemungkinan membikin senjata atom dan sekaligus menekankan arti penting bagi Amerika Serikat selekas-lekasnya membikin senjata itu sebelum didahului Jerman. Gagasan itulah kemudian mewujudkan "Proyek Manhattan" yang akhirnya bisa menciptakan bom atom pertama.
"Teori relativitas khusus" mengundang beda pendapat yang hangat, tetapi dalam satu segi semua sepakat, teori itu merupakan pemikiran yang paling meragukan yang pernah dirumuskan manusia. Tetapi, tiap orang ternyata terkecoh karena "teori relativitas umum" Einstein merupakan titik tolak pikiran lain bahwa pengaruh gaya berat bukanlah lantaran kekuatan fisik dalam makna yang biasa, melainkan akibat dari bentuk lengkung angkasa luar sendiri, suatu pendapat yang amat mencengangkan!
Bagaimana bisa orang mengukur bentuk lengkung ruang angkasa?
Einstein bukan sekedar mengembangkan secara teoritis, melainkan dituangkannya ke dalam rumusan matematik yang jernih dan jelas sehingga orang bisa melakukan ramalan yang nyata dan hipotesanya bisa diuji. Pengamatan berikutnya --dan ini yang paling cemerlang karena dilakukan tatkala gerhana matahari total-- telah berulang kali diyakini kebenarannya karena bersamaan benar dengan apa yang dikatakan Einstein.
Teori umum tentang relativitas berdiri terpisah dalam beberapa hal dengan semua hukum-hukum ilmiah. Pertama, Einstein merumuskan teorinya tidak atas dasar percobaan-percobaan, melainkan atas dasar-dasar kehalusan simetri dan matematik. Pendeknya berpijak diatas dasar rasional seperti lazimnya kebiasaan para filosof Yunani dan para cendekiawan abad tengah perbuat. Ini berarti, Einstein berbeda cara dengan metode ilmuwan modern yang berpandangan empiris. Tetapi, bedanya ada juga: pemikir Yunani dalam hal pendambaan keindahan dan simetri tak pernah berhasil mengelola dan menemukan teori yang mekanik yang mampu bertahan menghadapi percobaan pengujian yang rumit-rumit, sedangkan Einstein dapat bertahan dengan sukses terhadap tiap-tiap percobaan. Salah satu hasil dari pendekatan Einstein adalah bahwa teori umum relativitasnya dianggap suatu yang amat indah, bergaya, teguh dan secara intelektual memuaskan semua teori ilmiah.
Teori relativitas umum juga dalam beberapa hal berdiri secara terpisah. Kebanyakan hukum-hukum ilmiah lain hanya kira-kira saja berlaku. Ada yang kena dalam banyak hal, tetapi tidak semua. Sedangkan mengenai teori umum relativitas, sepanjang pengetahuan, sepenuhnya diterima tanpa kecuali. Tak ada keadaan yang tak diketahui, baik dalam kaitan teoritis atau percobaan praktek yang menunjukkan bahwa ramalan-ramalan teori umum relativitas hanya berlaku secara kira-kira. Bisa saja percobaan-percobaan di masa depan merusak nama baik hasil sempurna yang pernah dicapai oleh sesuatu teori, tetapi sepanjang menyangkut teori umum relativitas, jelas tetap merupakan pendekatan yang paling diandalkan bagi setiap ilmuwan dalam usahanya menuju kebenaran terakhir.
Meskipun Einstein teramat terkenal dengan "teori relativitas"-nya, keberhasilan karyanya di bidang ilmiah lain juga membuatnya tersohor selaku ilmuwan dalam setiap segi. Nyatanya, Einstein peroleh Hadiah Nobel untuk bidang fisika terutama lantaran buah pikiran tertulisnya membeberkan efek-efek foto elektrik, sebuah fenomena penting yang sebelumnya merupakan teka-teki para cerdik pandai. Dalam karya tulisan ilmiah itu Einstein membuktikan eksistensi photon, atau partikel cahaya.
Anggapan lama lewat percobaan yang tersendat-sendat mengatakan bahwa cahaya itu terdiri dari gelombang elektro magnit, dan gelombang serta partikel merupakan konsep yang berlawanan. Sedangkan hipotesa Einstein menunjukkan suatu perbedaan yang radikal dan amat bertentangan dengan teori-teori klasik. Bukan saja hukum foto elektriknya terbukti punya arti penting dalam penggunaan, tetapi hipotesanya tentang photon punya pengaruh besar dalam perkembangan teori kuantum (hipotesa bahwa dalam radiasi, energi elektron dikeluarkan tidak kontinyu melainkan dalam jumlah tertentu) yang saat ini merupakan bagian tak terpisahkan dari teori itu.
Dalam hal menilai arti penting Einstein, suatu perbandingan dengan Isaac Newton merupakan hal menyolok. Teori Newton pada dasarnya mudah dipahami, dan kegeniusannya sudah tampak pada awal mula perkembangan. Sedangkan "teori relativitas" Einstein teramat sulit dipahami biarpun lewat penjelasan yang cermat dan hati-hati. Lebih-Lebih rumit lagi jika mengikhtisarkan aslinya! Tatkala beberapa gagasan Newton mengalami benturan dengan gagasan ilmiah pada jamannya, teorinya tak pernah tampak luntur atau goyah dengan pendiriannya. Sebaliknya, "teori relativitas" penuh dengan hal yang saling bertentangan. Ini merupakan bagian dari kegeniusan Einstein bahwa pada saat permulaan, ketika gagasannya masih merupakan hipotesa yang belum diuji yang dikemukakannya selaku orang muda belasan tahun yang samasekali tidak dikenal, dia tak pernah membiarkan kontradiksi yang nyata-nyata ada ini dan mencampakkan teorinya. Sebaliknya malahan dia dengan sangat cermat dan hati-hati merenungkan terus hingga ia mampu menunjukkan bahwa kontradiksi ini hanya pada lahirnya saja sedangkan sebenarnya tiap masalah selalu tersedia untuk memecahkan kontradiksi itu dengan cara yang halus namun cerdik dan tegas.
Kini, kita anggap teori Einstein itu pada dasarnya lebih "correct" ketimbang teori Newton. Jika begitu halnya kenapa Einstein ditempatkan Lebih bawah dalam daftar tingkat urutan buku ini?
Alasannya tersedia. Pertama, teori-teori Newtonlah yang merupakan peletak dasar dan batu pertama ilmu pengetahuan modern dan teknologi. Tanpa karya Newton, kita tidak akan menyaksikan teknologi modern sekarang ini. Bukannya Einstein.
Ada lagi faktor yang menyebabkan mengapa kedudukan Einstein dalam urutan seperti yang pembaca saksikan. Dalam banyak hal, perkembangan suatu ide melibatkan sumbangan pikiran banyak orang. Ini jelas sekali misalnya dalam ihwal sejarah sosialisme, atau dalam pengembangan teori listrik dan magnit. Meskipun Einstein tidak 100% merumuskan "teori relativitas" dengan otaknya sendiri, yang sudah pasti sebagian terbesar memang sahamnya. Adalah adil mengatakan bahwa ditilik dari perbandingan arti penting ide-ide lain, teori-teori relativitas terutama berasal dari kreasi seorang, si genius dan si jempolan, Einstein.
2.2. Einstein mendiskusikan teori-teorinya.
Einstein lahir tahun 1879, di kota Ulm, Jerman. Dia memasuki perguruan tinggi di Swiss dan menjadi warganegara Swiss tahun 1900. Di tahun 1905 dia mendapat gelar Doktor dari Universitas Zurich tetapi (anehnya) tak bisa meraih posisi akademis pada saat itu. Di tahun itu pula dia menerbitkan kertas kerja perihal "relatif khusus," perihal efek foto elektrik, dan tentang teori gerak Brown. Hanya dalam beberapa tahun saja kertas-kertas kerja ini, terutama yang menyangkut relativitas, telah mengangkatnya menjadi salah seorang ilmuwan paling cemerlang dan paling orisinal di dunia. Teori-teorinya sangat kontroversial. Tak ada ilmuwan dunia kecuali Darwin yang pernah menciptakan situasi kontroversial seperti Einstein. Akibat itu, di tahun 1913 dia diangkat sebagai mahaguru di Universitas Berlin dan pada saat berbarengan menjadi Direktur Lembaga Fisika "Kaisar Wilhelm" serta menjadi anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Prusia. Jabatan-jabatan ini tidak mengikatnya untuk sebebas-bebasnya mengabdikan sepenuh waktu melakukan penyelidikan-penyelidikan, kapan saja dia suka.
Pemerintah Jerman tidak menyesal menyiram Einstein dengan sebarisan panjang kedudukan yang istimewa itu karena persis dua tahun kemudian Einstein berhasil merumuskan "teori umum relativitas," dan tahun 1921 dia memperoleh Hadiah Nobel. Sepanjang paruhan terakhir dari kehidupannya, Einstein menjadi buah bibir dunia, dan hampir dapat dipastikan dialah ilmuwan yang masyhur yang pernah lahir ke dunia.
Karena Einstein seorang Yahudi, kehidupannya di Jerman menjadi tak aman begitu Hitler naik berkuasa. Di tahun 1933 dia hijrah ke Princeton, New Jersey, Amerika Serikat, bekerja di Lembaga Studi Lanjutan Tinggi dan di tahun 1940 menjadi warga negara Amerika Serikat. Perkawinan pertama Einstein berujung dengan perceraian, hanya perkawinannya yang kedua tampaknya baru bahagia. Punya dua anak, keduanya laki-laki. Einstein meninggal dunia tahun 1955 di Princeton.
Einstein senantiasa tertarik pada ihwal kemanusiaan dunia di sekitarnya dan sering mengemukakan pandangan-pandangan politiknya. Dia merupakan pelawan teguh terhadap sistem politik tirani, seorang pendukung gigih gerakan Pacifis, dan seorang penyokong teguh Zionisme. Dalam hal berpakaian dan kebiasaan-kebiasaan sosial dia tampak seorang yang individualistis. Suka humor, sederhana dan ada bakat gesek biola. Tulisan pada nisan makam Newton yang berbunyi: "Bersukarialah para arwah karena hiasan yang ditinggalkannya bagi kemanusiaan!" sebetulnya lebih kena untuk Einstein.
2.3. Penentuan Konstanta C melalui Al Qur’an
Konstanta C atau sering disebut dengan kecepatan cahaya yang merupakan komponen terpenting dalam formulasi teori Einstein. Dimana menurut Einstein bahwa kecepatan cahaya merupakan kecepatan yang tercepat di jagad raya ini yaitu 299.279,5 km/s. hal tersebut bisa ditentukan atau dihitung dengan tepat berdasarkan informasi dari dokumen yang sangat tua. Mungkin kita tidak pernah tahu bahwa konstanta C atau kecepatan cahaya yaitu kecepatan tercepat di jagad raya ini diukur, dihitung dan ditentukan oleh berbagai institusi berikut:
US National Bureau Of Standards
C= 299.792,4574 + 0,0011 Km/s
The British National Physical Laboratory
C= 299.792,4590 + 0,0008 Km/s
Konferensi ke-17 tentang penetapan ukuran dan berat standar.
“Satu meter adalah jarak tempuh cahaya dalam ruang vacuum selama jangka waktu 1/299.792,459 Km/s”
Tapi kita seharusnya tahu bahwa konstanta C bisa dihitung atau ditentukan secara tepat menggunakan informasi dari kitab suci yang diturunkan 14 abad silam yaitu Al Qur’an kitab suci umat islam. (Penemu hitungan ini adalah seorang ahli fisika dari mesir, DR. Mansour Hassab Ernaby)
Dalam Al Qur’an dinyatakan
“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan haq. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui” (QS. Yunus: 5)
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS. Al Anbiyaa:33)
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu” (QS. As Sajadah:5)
Berdasarkan ayat-ayat tersebut diatas terutama ayat yang terakhir (QS. 32:5) dapat disimpulkan: “Jarak yang dicapai sang urusan selama satu hari sama dengan jarak yang ditempuh bulan selama 1.000 tahun atau 12.000 bulan.
C.t = 12.000. L
Ket: C = Kecepatan sang urusan
t = Waktu selama satu hari
L = Panjang rute edar bulan selama satu bulan
Berbagai system kalender telah diuji, namun “Sistem kalender bulan sideral” menghasilkan nilai C yang percis sama dengan nilai C yang sudah diketahui melalui pengukuran.
Ada dua macam system kalender bulan:
1) Sistem Sinodik
Didasarkan atas penampakan semu gerak ulan dan matahari dari bumi.
1 hari = 24 jam
1 bulan = 29,53059 hari
2) Sistem Sidereal
Didasarkan atas pergerakan relative bulan dan matahari terhadap bintang dan alam semesta.
1 hari = 23 jam 56 menit 4,0906 detik
1 bulan = 27,321661 hari
Posisi bulan setelah 29,52 hari (Rute berupa Lingkaran)
Bulan kembali ke posisi semula tepat pada garis lurus antara matahari dan bumi (satu bulan sinodik)
Sistem Sidereal (Rute berupa Kurva)
L = V.T Ket:
V = Kecepatan Bulan
T = Priode revolusi Bulan
= 27,321661 hari
@ = 27,321661 hari 360o = 26,92848o
365,25636 hari
Sebuah catatan tentang kecepatan bulan
Ada 2 tipe kecepatan Bulan:
1). Kecepatan Relatif terhadap Bumi yang bisa dihitung dengan rumus berikut
Ve = 2 R / T
Dimana: R = Jari-jari Revolusi Bulan = 384,264 km
T = Periode Revolusi Bulan = 655,71986 jam
Jadi, Ve = 2. 3,14. 384,264 / 655,71986 = 3682,07 km/jam
2). Kecepatan Relatif Terhadap Bintang atau Alam Semesta
Einstein mengusulkan bahwa kecepatan jenis kedua ini dihitung dengan mengalikan yang pertama dengan cosinus @, sehingga:
V = Ve Cos @ @ = 26,92848o
Jadi, C. t = 12.000. L
C. t = 12.000. V. T
C. t = 12.000. (Ve Cos @). T
C = 12.000. Ve Cos @. T / t
C = 12.000. 3682,07 Cos 26,92848o. 655,7198 / 86164,090 =299.792,5 km/jam
2.4. Aplikasi Teori Einstein dalam Kehidupan
Berbicara tentang pengaplikasian teori Einstein, maka dapat dikatakan bahwa Einstein merupakan ilmuan pertama yang meletakkan dasar-dasar dari berkembangnya fisika modern. Terciptanya Bom atom yang pertama juga merupakan buah dari pemikiran seorang Einstein dan perkembangan teori kuantum dalam konsep fotoelektrik yang dikenal dengan efek fotolistrik dan yang tak kalah pentingnya adalah akhir-akhir ini bermunculan teknologi canggih yang disebut dengan Teknologi nano, dengan teknologi nano berbagai aktivitas kehidupan dapat dilakukan dengan sangat mudah. Semua itu tidak lain karena adanya teori Einstein, sehingga Einstein dinobatkan sebagai ilmuan terhebat sepanjang zaman.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan rumusan masalah dan pembahasan yang telah dipaparkan maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Teori yang paling spektakuler sepanjang abad yang telah dicetuskan oleh seorang ilmuan yang bernama Einstein ternyata sudah tergambarkan dengan jelas di dalam kitab suci Al Qur’an selama 14 abad silam.
2. Saking pentingnya teori tersebut para ilmuan abad ini banyak merujuk kepada teori ini, salah satunya perkembangan teori atom yang berimplikasi kepada lahirnya Teknologi nano yang pada masa ini sangat disanjung-sanjung, semua itu berkat daripada teori Einstein.
3.2. Saran
Begitu sempurnanya kitab suci Al Qur’an sebagai pedoman hidup manusia yang didalamnya tercantum berbagai macam ilmu pengetahuan, maka sebagai seorang muslim yang intelek maka sudah selayaknya kita mengkaji dan memahami isi kandungan yang terkandung didalamnya, sudah banyak bukti kebenaran Al Qur’an yang telah diuji dengan ilmu pengetahuan modern dan menghasilkan karya-karya besar. Bahkan banyak para ilmuan non muslim sengaja mengkaji Al Qur’an dengan mengharap keuntungan dunia yang sesaat tetapi tidak mau beriman kepadanya. Kenapa kita yang Al Qur’an sebagai pedoman hidup kita sebagai sumber ilmu pengetahuan kita tinggalkan, tidakkah kita merasa rugi. Mari kika sama-sama menyadari dan kembali kepada Al Qur’an supaya kita selamat dunia dan akhirat.
DAFTAR PUSTAKA
Hart, M.H. 1978. Seratus Tokoh Berpengaruh di Dunia. Jakarta Pusat: PT. Dunia Pustaka Jaya
Wardana, A.W. 2005. Einstein Membantah Taurat dan Injil. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Wisnu. 2009. Melacak Teori Einstein dalam Al Qur’an. (Online). Www. Wisnu Arya.go.id. diakses tanggal 20 April 2010.
DOKUMENTASI
Pertanyaan !
No Penanya Kelas Pertanyaan
1 Dewi Sumati Fisika IV A Bagaimana aplikasi teori Einstein dalam mengubah massa menjadi energi atau energi menjadi massa ?
2 Abdul Aziz Fisika IV A Apa alasan massa (m) dalam formulasi Enstein tidak terlalu diperhatikan ?
3 Anas Ma’ruf Fisika IV A Apa kaitannya tema makalah dengan pembahasan yang dipaparkan ?
4 Desi Indrasari Fisika IV A Bagaimana penerapan teori Einstein dalam kehidupan sehari-hari ?
MAKALAH
“MELACAK TEORI EINSTEIN DALAM
AL QUR’AN”
OLEH:
RAJA BAU
BAHARUDIN
ADRIANI R
MUHAMMAD SALEH
DEDI H
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM (FPMIPA)
IKIP MATARAM
2010
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai pedoman hidup yang sempurnah bagi manusia sebagai seorang khalifah di muka bumi. Al Qur’an yang mengandung banyak hikmah didalamnya sudah selayaknya kita mengkaji makna yang terkandung di dalamnya. Tanpa kita sadari penemuan atau teori paling terspektakuler sepanjang abad ternyata bisa ditemukan di dalam Al Qur’an. Bahkan sebelum teori tersebut dicetuskan jauh-jauh hari Al Qur’an sudah menginformasikan hal tersebut selama 14 abad yang lalu. Sudah terlambatkah kita untuk mempelajari dan mengkaji Al Qur’an untuk menguak fenomena-fenomena baru yang akan menakjubkan dunia, jangan kita pesimis masih banyak ayat Al Qur’an yang belum diungkap kehebatannya, tugas kita sebagai kaum intelek penulis mengajak kita semua mari kita sama-sama menguak fenomena-fenomena terdahsyat di dalam Al Qur’an sehingga kita semakin yakin bahwa Al Qur’an adalah benar dan tidak ada yang salah sehingga lahirlah generasi islam yang bisa diandalkan. Ingat ilmu pengetahuan milik kita bukan milik orang-orang yahudi yang menentang Al Qur’an. Allahuakbar !!!
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Mataram, 1 Mei 2010
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang……………………………………………………. 1
1.2. Rumusan Masalah……………………………………………….. 1
1.3. Tujuan……………………………………………………………… 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Gambaran Umum Teori Einstein…………………………………. 3
2.2. Einstein Mendiskusikan Teori-teorinya…………………………. 8
2.3. Penentuan Konstanta C Melalui Al Qr’an……………………….. 10
2.4. Aplikasi Teori Einstein dalam Kehidupan………………………... 14
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
3.1. Kesimpulan…………………………………………. …………. ….. 15
3.2. Saran……………………………………. …………….. ………. … 15
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar